Cinta Lebih Berharga dari Materi


Aku terlahir dalam sebuah keluarga kecil jauh di pinggiran kota Yogyakarta. Tepatnya di sebuah desa di kaki bukit-bukit yang masih hijau. Keluargaku sangat sederhana. Kehidupan kami masih akrab dengan budaya Jawa dan dinamika kebersamaan dalam masyarakat desa seperti tegur sapa dan gotong royong.
Masa kecilku kulalui dengan bahagia. Cinta dari orangtua membalut kehidupanku, menjadikan aku tumbuh dan merangkak menuju masa remajaku. Meskipun keluargaku sederhana, semasa kecil, aku tidak pernah merasa kekurangan apa pun. Sarana sekolah seperti tas, buku, baju, sepatu, uang saku, dan kebutuhan lainnya tercukupi.

Akan tetapi, ketika SMP aku merasakan hal yang berbeda. Seiring dengan kebutuhanku dan kebutuhan kakakku yang semakin besar, aku sangat merasakan bahwa keluargaku adalah “wong cilik”, keluarga yang tidak mampu. Ketika itu aku mulai bersekolah di kota, dari SD yang “ndeso” hijrah ke SMP yang kota dan lumayan favorit. Dalam pergaulan aku makin merasakan bahwa status ekonomiku berada di bawah teman-temanku. Kenyataan ini membuat aku minder. Aku tidak banyak memiliki teman dekat seperti saat di SD, dan aku tidak lagi vokal seperti saat SD. Aku lebih banyak diam.
Krisis moneter yang melanda Indonesia mempengaruhi ekonomi keluargaku. Lebih lagi keluargaku ditipu mentah-mentah oleh salah seorang kerabat orangtuaku. Peristiwa ini kontan memukul hidupku, terlebih kehidupan ekonomi keluargaku
Waktu itu aku mau masuk SMU. Orangtuaku harus cari uang lagi untuk pendaftaran. Bagi kami uang yang tak kembali itu sangat berharga karena sangat kami butuhkan. Tetapi ketika kami akan memakai uang itu malah tidak ada. Kerabat itu mengingkari janjinya dan tidak mau mengganti uang keluargaku. Mengalami semua itu aku hanya bisa diam. Aku tak memiliki kekuatan apa-apa. Aku masih terlalu belia untuk memikirkan hal besar itu. Namun dalam diam itu, aku memendam sebuah perasaan luka kepadanya. Namun luka ini tak mengubah banyak, malah semakin memenuhi pikiranku dan keadaan juga tidak berubah.
Di SMU, yang kuhadapi tidak jauh berbeda dengan pengalamanku di SMP. Aku juga bersekolah di salah satu SMU unggulan. Keadaan ekonomi keluargaku juga tidak membaik. Jurangnya ekonomi keluargaku justru semakin tampak. Aku tidak memiliki apa yang teman-temanku miliki. Aku tidak memiliki motor bagus, aku tidak memiliki ponsel yang bagus, tak memiliki sisa uang saku yang banyak. Pokoknya apa-apa yang kumiliki hanya pas-pasan. Di SMU ini pula aku mengukir prestasiku dalam hal menulis, baik di sekolah maupun di tingkat provinsi. Aku pernah masuk nominasi dalam beberapa lomba yang diselenggarakan di tingkat provinsi, dan ini menjadi penghibur bagiku. Aku memiliki harapan baru akan hidupku yang lebih baik. Aku tak lagi terlalu terpaku pada masalah keluargaku.
Di sisi lain, dari pengalamanku berjumpa banyak orang dan teman, aku memiliki idealisme tersendiri akan sebuah keluarga. Keluarga ideal bagiku adalah keluarga yang bahagia, kecukupan materi dan non materi, terutama materinya. Aku merasa ada yang kurang dari keluargaku. Dalam hal perhatian dan cinta aku merasa tidak kekurangan tapi dalam hal materi aku merasa kurang. Keluargaku tidak sesuai dengan idealismeku. Sekurang-kurangnya apa yang kudapatkan belum sesuai dengan apa yang kuberikan (prestasi-prestasiku).
Pernah pada suatu ketika aku marah besar. Pertama, aku marah kepada diriku sendiri, kenapa dilahirkan dalam keluarga yang hidupnya pas-pasan ini? Kenapa aku harus melalui masa-masa harus tergantung kepada orangtuaku? Kedua, aku marah kepada orangtuaku. Aku marah karena mereka tidak bisa membahagiakan aku dengan sempurna. Mereka tidak bisa memberi aku cukup materi. Mereka tak bisa memberi aku fasilitas hidup yang bagus dan membanggakan. Bahkan aku juga marah kepada Tuhan. “Tuhan, mengapa aku yang harus mengalami semuanya ini? Mengapa harus aku?”
Aku merasa dalam peristiwa ini tidak ada keadilan. Aku merasa, perbuatan-perbuatan baikku, prestasi-prestasiku, tidak ada gunanya. Nyatanya, teman-temanku yang nggak karuan hidupnya bisa lebih bahagia dan tercukupi kebutuhannya. Bahkan sampai melimpah. Sedangkan aku kerap kali harus menanggalkan keinginan-keinginanku karena tak akan bisa kudapat.

Aku iri. Aku menolak diriku, orangtuaku, dan keadaanku. Aku sering berandai-andai menjadi temanku. Betapa enaknya mereka: tidak usah belajar keras, mendapat fasilitas lengkap, uang saku banyak, rumah bagus. Pokoknya serba menyenangkan. Aku juga ingin seperti teman-temanku yang lain; aku merindukan orangtua yang bisa memenuhi kebutuhan materialku, tidak hanya cinta dan perhatian. Aku merasa, hal itu masih kurang. Menurut pendapatku keluarga ideal belum bisa kucapai bersama orangtuaku. Aku belum merasa bahagia dengan keadaanku.
Itulah kehidupanku yang lalu. Saat itu aku meratapi apa yang terjadi padaku. Aku menjadi pemberontak kecil, namun tidak pernah marah di hadapan orangtuaku. Tidak pernah sampai membanting barang-barang. Aku melampiaskannya dengan menulis. Aku menulis apa pun yang ingin kuhujatkan di dalam bukuku. Biasanya aku mengurung diri di kamar, diam, merenung, dan menulis sampai kemarahanku berkurang. Setelah itu semua berjalan seperti biasa.
Pada suatu saat, setelah aku semakin menjadi dewasa, aku menemukan sebuah kesadaran. Ternyata aku merindukan sebuah idealisme keluarga dengan menolak realitasku. Padahal, di dunia ini tidak ada yang ideal. Segala sesuatu pasti ada kekurangannya. Dalam hidup ini, ada hal-hal yang bisa kukendalikan dan ada yang tidak. Aku tidak bisa mengenalikan tempat aku akan lahir, di keluarga mana aku hidup, siapa ayahku, siapa ibuku, dan sebagainya. Namun ada hal yang bisa kukendalikan, yaitu reaksiku terhadap semua itu.
Aku mulai berpikir jernih. Ternyata selama ini aku memandang kedua orangtuaku hanya dengan kacamata materi. Aku tidak pernah memperhatikan aspek lainnya. Maka aku juga merasa berdosa terhadap mereka. Aku buta. Aku hanya ingin semuanya tersedia. Aku tidak pernah mengerti bagaimana orangtuaku mengusahakannya untukku. Aku telah terenggut tiga godaan utama manusia, yaitu dunia, daging, dan setan. Aku telah menolak realitas yang diberikan Tuhan padaku untuk kuhadapi.
Aku juga disadarkan, aku terlalu mencintai dunia dan keinginan akan harta milik. Aku diperbudak dan terjerat oleh pandangan palsu. Akibatnya, karena tak dapat memilikinya aku menolak hidupku, bahkan orangtuaku. Hingga suatu hari kurasakan ucapan-Nya, “Orang yang berbahagia adalah orang yang bersemangat miskin”. Kini aku melihat orangtuaku dengan cara lain. Ternyata perjuangan mereka bagiku begitu keras; bekerja untukku, mencukupi kebutuhan keluarga, walau sulit. Aku tak pernah mau mengerti bahwa mereka selalu ingin membahagiakan diriku sampai tetesan keringat yang penghabisan.
Di balik semuanya itu aku melihat Tuhan memberi banyak. Aku memiliki orangtua yang mencintaiku, orangtua yang bisa memberiku kebebasan. Aku tak pernah merasa dikekang. Setiap kali aku minta izin ikut kegiatan ini atau itu mereka selalu mengizinkanku. Mereka telah menjadi teladan yang nyata, mengajariku mengenal lebih luas arti kehidupan manusia: manusia itu tidak hidup hanya untuk bahagia tetapi juga untuk menderita.

Aku tahu cinta mereka lebih bernilai daripada barang dan harga seberapa pun banyaknya. Aku yakin tidak akan tumbuh menjadi aku seperti sekarang jika hanya mendapat materi yang cukup, tetapi tanpa cinta mereka. Cinta lebih penting daripada materi. Aku merasa lebih bersyukur karena mendapatkan lebih banyak cinta daripada yang lain. Aku salah melihat karena wawasanku kurang luas dan idealismeku keliru. Aku yakin mereka adalah yang terbaik bagiku. Terima kasih Tuhan. (Ssst..Ortuku Kolot)
 

Mengapa Harus Bertemu Kalau Tak Bisa Memiliki?

Masih di siang yang sama, dan aku harus menunggu bis yang akan membawaku pulang ke rumah agar tak terlalu larut sesampainya nanti. Kulihat bis yang biasa membawaku, berjalan perlahan seperti muatannya telah keberatan. "Ahhh... harus berdiri lagi deh," batinku. Aku menjejakkan kaki ke dalam bis dan memang seperti sudah tak ada tempat duduk manis di sana.
Aku memaksakan diri masuk ke arah tengah, berharap masih ada bangku kosong yang menyisip di sana. Hasilnya nihil. Tetapi aku masih bisa lebih tenang karena perjalananku dua kali lebih jauh dari biasanya hari ini.
"Duduk di sini aja non, aku udah deket kok," sapa seorang pria yang tengah duduk satu baris dari bangku tempatku berdiri. Karena kaki sudah pegal, dengan tanpa sungkan akupun beranjak duduk di bangkunya. Menikmati kursi tersebut aku tak sadar bahwa penumpang sudah semakin sepi dan pria yang tadi memberikanku kursinya masih berdiri di sana. Aku mulai memperhatikannya. Baik juga dia memberiku kursi ini sekalipun dia juga masih harus menempuh jarak jauh.
Beberapa menit kemudian, bangku di sebelahku kosong. Aku bergeser. Dan ia duduk di sebelahku.
"Aryo," ia menyodorkan tangan dengan ramah. "Elin." Aku balik menyodorkan tangan, dan di situlah awal perkenalanku dengan Aryo.
***
Sudah 4 bulan ini hatiku diliputi bunga-bunga. Aku semakin bersemangat, tak peduli jalanan macet, pekerjaan berat, atau masalah di kantor, semua terasa baik-baik saja sejak kehadiran Aryo.
Belakangan ini ia selalu menjemputku, kami akan pergi sekedar makan dan ngobrol terlebih dahulu sebelum menjalani rute bis kami.
Sekalipun tubuh kelelahan, setidaknya aku senang dan cukup puas bisa selalu berlama-lama dengannya. Rasanya seisi hariku dipenuhi dengan namanya, dengan keceriaan, kelembutan, keromantisan serta pengetahuannya yang luas itu. Ia hampir selalu membuatku terkesima karena ia tahu banyak hal.
Singkat kata, ia merebut hatiku.
Dalam hanya 4 bulan saja, hatiku terkait terlalu erat. Aku enggan melepaskan, dan tak ingin melepaskannya. Aku berharap hubungan kami ini segera berlanjut ke arah yang lebih serius.
"Ar, ibuku bertanya-tanya tentang kamu lho. Dia ingin bertemu kamu, karena tak puas mendengarkan cerita dariku,"
"Hmm... ok. Nanti kita atur ketemuan dengan ibumu ya, sayang." Aryo terlihat tenang dan seperti yakin jalan yang akan kami tempuh ke depannya. Itulah sebabnya aku tak pernah khawatir dan curiga apa-apa terhadapnya.
Dan mungkin harapanku terlalu tinggi. Aku terlalu naif saat berhadapan dengan cinta. Hingga aku harus bertemu luka.
***
Sudah seminggu ini Aryo bilang sedang sibuk. Aku jadi lebih sering pulang sendiri. Komunikasi juga agak sedikit sulit, dan hatiku mulai bertanya-tanya. Ada apa dengannya ya?
Hari itu aku tak ingin langsung pulang. Walaupun aku tahu akan tiba di rumah larut malam jika tak bergegas mencari bis. Apalagi tak ada Aryo yang menemaniku. Ah, tak apa. Toh biasanya aku juga seorang diri.
Menikmati secangkir hot chocolate dan pancake rumahan buatan sebuah cafe kecil di sudut jalan, akupun puas. Aku merasa lebih tenang dan dapat berpikir jernih. Aku akan pulang, beristirahat dan berharap Aryo akan menghubungiku keesokan harinya.
Dan sesaat setelah aku hendak menjejakkan kaki keluar, aku terdiam. Aku melihat sesosok pria yang kukenal beberapa lama ini. Aryo. Ia menggandeng tangan seorang wanita yang anggun masuk ke dalam mobil. Dengan membawa kantungan plastik belanjaan yang cukup banyak jumlahnya. Sedang apa ya dia?
Tak ingin membuatnya terkejut, aku memutuskan menahan diri dan bertanya via telepon sesampainya aku di rumah nanti.
"Ar, kamu kenapa sih susah dihubungi akhir-akhir ini?" tanyaku menahan emosi, karena aku tak ingin ia menganggapku terlalu cemburu atau mengekang.
"Aku sedang sibuk saja sih belakangan ini, maaf ya," katanya.
"Hmmm... kalau memang banyak yang harus kamu kerjakan dan kamu merasa keberatan, aku mau lho ngebantu kamu,"
"Nggak perlu Lin. Untuk urusan kali ini, kayaknya aku nggak bisa melibatkan kamu," suaranya mulai bergetar. Akupun curiga, dan merasa was-was, ada apa sih ini?
Belum sempat aku bertanya, Aryo sudah mengambil suara dulu.
"Lin, aku boleh bertemu kamu? Aku tahu ini sudah malam. Tapi aku pengen banget peluk kamu," kata-kata Aryo spontan membuatku senang. Aku sendiri tak tega dengan suaranya, ia terlihat sedang membutuhkan aku saat ini.
"Iya, aku akan ijin ibu. Dia pasti mengerti kalau memang ada yang penting."
"Tidak. Aku tidak akan lama kok, aku akan segera sampai di rumahmu 30 menit lagi. Aku janji, nggak akan lama." Teleponpun ditutup dan aku dengan cemas menunggu kedatangan Aryo pertama kali ke rumahku.
***
"Aku udah di depan." Demikian bunyi SMSnya. Segera aku berlari ke depan dengan membawa jaket lengkap dengan tas slempangku. Aku tak yakin Aryo akan masuk, sehingga aku bersiap membawa perlengkapan pergi.
"Kita nggak usah ke mana-mana Lin, di sini aja. Nggak lama kok. Nggak enak udah terlalu malem." Aku mengangguk. Dan tiba-tiba ia meraihku, memelukku dalam-dalam dan erat. Tubuhnya kurasakan bergetar, mungkin dia menangis. Aku hanya membalas pelukannya lebih erat, dan menenangkan dia.
"Kamu kenapa sih Ar?"
"Lin, aku udah salah sama kamu. Seharusnya hubungan ini nggak boleh terjalin."
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku akan menikah bulan depan dengan tunanganku."
Kalimat itu membuatku terkejut dan spontan melepaskan tanganku dari tubuhnya. Aku terdiam sejenak, tak percaya.
"Kamu mempermainkan aku, Ar?" aku bertanya lirih tak jelas, berusaha meyakinkan diri kalau ini cuma mimpi.
"Aku nggak berniat mempermainkan kamu Lin. Aku beneran jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita bertemu. Sayangnya, pada saat itu statusku tidak lagi single. Dan, kamu boleh bilang aku egois. Tetapi, kamu harus tahu bahwa aku nggak main-main, perasaanku ini beneran sama kamu!"
Aku bingung dengan penjelasan Aryo yang terdengar hanya menguntungkan dirinya saja.
"Mungkin memang kita bertemu di waktu yang nggak tepat, itu saja," sambungnya.
"Ok. Tak usah berbicara lagi. Aku cukup tahu ini, dan aku sudah bisa menebak selanjutnya apa," aku tertunduk kecewa dan mengambil ancang-ancang masuk ke dalam rumah. Aryo meraih tanganku, berusaha menarikku kembali ke pelukannya.
"Maaf Lin... maaf... tapi percayalah, perasaanku nggak akan berubah. Aku akan tetap sayang kamu," matanya berkaca-kaca. Yang hanya kupandang tanpa balasan sepatah katapun.
Aku beranjak masuk. Menahan semua air mata yang nyaris tak terbendung di depannya tadi.
Akhirnya, kutumpahkan semua isak tangisku di atas tempat tidurku. Memungut semua harapanku yang telah kugantung tinggi-tinggi, dan kumasukkan lagi ke dalam hati.
Tuhan... mengapa sih KAU harus mempertemukan kami kalau pada akhirnya kami tak bisa saling memiliki? (vem/bee)
 

Tertarik Hidup Di Planet Mars?

Rakatalenta.com, Sampai akhir tahun lalu, banyak wacana untuk berwisata bahkan menetap di bulan atau luar angkasa. Kini, wacana tersebut dapat Anda dapatkan dengan mendaftarkan diri Anda mulai sekarang.

Pada awal September 2012 lalu, ada satu berita yang mengatakan bahwa sebuah perusahaan dari Belanda mempunyai program untuk dapat mendaratkan serta membuat koloni manusia di Mars pada tahun 2023 mendatang.
Kini, menindaklanjuti program tersebut, melalui situs resminya, Mars One, perusahaan tersebut membuka pendaftaran secara online. Seperti dilansir Mashable (09/01), salah satu persyaratan untuk dapat tinggal di Mars dengan menggunakan jasa layanan tersebut adalah minimal harus berusia 18 tahun.

Pihak perusahaan mengatakan bahwa untuk tahap pertama, mereka akan mengirimkan robotic cargo mission antara tahun 2016 dan 2021. Setelah mengetahui medan, mereka akan memulai membangun koloni manusia di planet merah tersebut.

"Kita bekerja ekstra keras untuk merealisasikan program ini dan membuka jalan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan sesuatu yang benar-benar berharga dalam hidupnya," ungkap Suzanne Flinkenflogel, Director Mars One Communication.

Pihak Mars One juga menambahkan bahwa setiap gelombang pemberangkatan akan mengambil durasi selama 2 tahun baru akan memberangkatkan lagi. Apabila sudah memutuskan untuk hidup di planet tersebut, maka tidak ada jalan lain untuk dapat kembali ke bumi. Tertarik?
 

Ayo Ikutan Kontes Humor JOKES.WEB.ID

Ayo Ikutan Kontes Humor JOKES.WEB.ID


Tertawa adalah salah satu keterampilan hebat manusia yang tidak dimiliki hewan. Dengan tertawa, Anda membuat perspektif baru terhadap diri sendiri. Masalah besar yang menumpuk tiba-tiba menjadi lebih kecil. Dengan memandang masalahnya dari kaca mata yang positif maka Anda lebih dapat menemukan solusinya karena pikiran Anda tidak lagi tertekan. Yang lebih penting dari semuanya, tertawa itu gratis dan tidak memiliki efek samping! Daripada Loe Bengong,... Ngong,.... Ayo Ikutan Kontes Humor JOKES.WEB.ID Tantangan menghadirkan humor di web, dan membuat orang tertawa dikerjakan oleh bengkel.web.id dan saat ini sedang mengerjakan proyek jokes.web.id  
Dengan akun sosial media teman-teman bisa menyumbangkan satu cerita humor ke JOKES.WEB.ID, jadi teman-teman cukup login dengan menggunakan salah satu akun sosial media teman-teman, seperti Facebook, Google+, dan juga Twitter. Setiap pemenang akan dipilih setiap dua minggu yaitu pada tanggal 1 dan juga tanggal 15 maklum namanya juga bukan pegawai PNS masa mau dikasih rejekinya juga tanggal 25? hehe (Catet dulu yah tanggal nya buat motivasi nanti)

Dan untuk persyaratan pun akan sangat gampang sob, apakah sobat semuanya sudah siap untuk melihat persyaratan pendaftaran tersebut, jika belum siap sebaiknya tarik nafas pelan-pelan dan keluarkan secara perlahan. Persyaratannya adalah:
  1. Kontes humor ini dibuka untuk umum, jadi mau apapun profesi sobat semua asalkan punya basic tukang ngelucu, dan kelucuan sobat semua tinggal pindahkan ke dalam sebuah tulisan bisa tuh langsung ikutan kontes humornya, apalagi tidak dipungut biaya.
  2. Sobat semua bisa mengirimkan tulisan humor lebih dari satu konten, jadi kirimin deh sebanyak-banyaknya dan bisa saja peluang untuk mendapatkan reward pun akan semakin besar.
  3. Untuk penilaian dipilih berdasarkan faktor lucu, dan juga faktor lainnya, seperti jumlah likes, komentar, dan share di beberapa social media.

Pemilihan pemenang akan berdasarkan kelucuan cerita humor dan juga vote likes, share, dan komentar pada cerita humor teman-teman. Jokes.WEB.ID menurut Fauzi Online sangat adil nih, karena pemenang
juga dibagi dua kriteria, yaitu: Best Humor dan Top Post

  1. Kriteria Pemenang Best Humor
    Kategori ini akan dipilih empat sampai dengan delapan best humor. Masing-masing Best Humor berhak mendapatkkan @100.000. (Lumayan buat Malem Minggu beli Bakso sama Pacar nih)
  2. Kriteria Pemenang Top Post
    Kategori ini dipilih berdasarkan postingan terbanyak dan juga terlucu dalam satu periode. namanya juga TOP berarti Pemenang ini berhak mendapatkan @200.00. (Wuidiih lumayan banget kan)

Mudah kan sob, jadi bagaimana buat sobat semua yang merasa punya tulisan lucu mending buruan kirimin artikel lucu tersebut ke jokes.web.id. Hadiahnya seperti apa? Untuk pembagian hadiahnya sendiri, jokes.web.id akan rutin setiap dua minggu sekali.






 

Download Free Avira Internet Security 2013 Full License

Yuk Download : Download Free Avira Internet Security 2013 Full License

Sobat disini tentu sudah tidak asing lagi kan dengan Antivirus yang satu ini ? Yups, Avira memang merupakan salah satu Antivirus terbaik di dunia. Akhir-akhir ini Avira merilis versi terbarunya, yaitu Avira 2013. Pada kesempatan kali ini pula saya akan membagikan kepada para sobat versi Internet Securitynya. Pada Avira Internet Security 2013 ini, terdapat beberapa perubahan dari versi sebelumnya. Diantaranya adalah penambahan fitur Child Protection, dan Social Network, serta perubahan GUI. Jadi tunggu apa lagi, buruan download sebelum Lisensinya invalid.

Screenshot
    Password : | Status : Tested (Windows 7)
 

Cara Membuat 4 Panel


Pada Kesempatan Kali ini Saya Akan Kembali Menuliskan Tutorial Blogger 

  • Pertama Silahkan Sobat Login Ke Akun Blogger.
  • Masuklah Pada Rancangan Dan Pilih Edit HTML Lalu Centang Expand Template Widget.
  • Nah Buat Sobat Yang Sudah Menggunakan Panel Info Silahkan Sobat Hapus Semua Kode Tersebut.
  • Selanjutnya Silahkan Sobat Cari Kode ]]></b:skin> Dan Copy Kode Dibawah ini Lalu Taruh Tepat Diatas Kode ]]></b:skin> Tersebut.

    /* Panel */
    .panel{position:fixed;top:10px;left:0;background:#000;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;border:1px solid #666;width:320px;height:auto;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;display:none;padding:10px 30px 30px 100px}
    .panel p{color:#fff;margin:0 0 15px;padding:0}
    .panel a,.panel a:visited{color:#9FC54E;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    .panel a:hover,.panel a:visited:hover{color:#fff;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    a.trigger{position:fixed;text-decoration:none;top:15px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 35px 10px 10px;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;}
    a.trigger:hover{position:fixed;text-decoration:none;top:15px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 40px 10px 10px}
    a.active.trigger{background:#222 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy6YUdLN8j-sRZYkREWhlz3sBomcxE-kSYOiYEg3-JlWTqI_1XvJ6QHawQiVfQ4QfoA4io5_EgSk4-Zhqe_YRTv4h4K0f84uELQWgRpoxxQFkuONSfUHI_1LR_vGwbuZZzNbeKY_3nl83T/s128/minus.png) 85% 55% no-repeat}
    .columns{clear:both;width:330px;line-height:22px;padding:0 0 20px}
    a:focus{outline:none}
    .panel img{border:1px solid #666;float:right;margin:3px 0px 6px 5px;padding:2px}
    .panel h3{border-bottom:1px solid #666;margin-bottom:5px;padding-bottom:3px;text-align:left;clear:both;color:#fff;font-size:13px;font-weight:700}
    .columns ul,.columns ul li{list-style-type:none;margin:0;padding:0}

    /* Pans */
    .pans{position:fixed;top:10px;left:0;background:#000;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;border:1px solid #666;width:320px;height:auto;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;display:none;padding:10px 30px 30px 100px}
    .pans p{color:#fff;margin:0 0 15px;padding:0}
    .pans a,.pans a:visited{color:#9FC54E;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    .pans a:hover,.pans a:visited:hover{color:#fff;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    a.ligger{position:fixed;text-decoration:none;top:150px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 35px 10px 10px;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;}
    a.ligger:hover{position:fixed;text-decoration:none;top:150px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 40px 10px 10px}
    a.active.ligger{background:#222 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy6YUdLN8j-sRZYkREWhlz3sBomcxE-kSYOiYEg3-JlWTqI_1XvJ6QHawQiVfQ4QfoA4io5_EgSk4-Zhqe_YRTv4h4K0f84uELQWgRpoxxQFkuONSfUHI_1LR_vGwbuZZzNbeKY_3nl83T/s128/minus.png) 85% 55% no-repeat}
    .polumns{clear:both;width:330px;line-height:22px;padding:0 0 20px}
    a:focus{outline:none}
    .pans img{border:1px solid #666;float:right;margin:3px 0px 6px 5px;padding:2px}
    .pans h3{border-bottom:1px solid #666;margin-bottom:5px;padding-bottom:3px;text-align:left;clear:both;color:#fff;font-size:13px;font-weight:700}
    .polumns ul,.polumns ul li{list-style-type:none;margin:0;padding:0}

    /* dans */
    .dans{position:fixed;bottom:10px;left:0;background:#000;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;border:1px solid #666;width:320px;height:auto;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;display:none;padding:10px 30px 30px 100px}
    .dans p{color:#fff;margin:0 0 15px;padding:0}
    .dans a,.dans a:visited{color:#9FC54E;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    .dans a:hover,.dans a:visited:hover{color:#fff;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    a.kigger{position:fixed;text-decoration:none;bottom:150px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 35px 10px 10px;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;}
    a.kigger:hover{position:fixed;text-decoration:none;bottom:150px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 40px 10px 10px}
    a.active.kigger{background:#222 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy6YUdLN8j-sRZYkREWhlz3sBomcxE-kSYOiYEg3-JlWTqI_1XvJ6QHawQiVfQ4QfoA4io5_EgSk4-Zhqe_YRTv4h4K0f84uELQWgRpoxxQFkuONSfUHI_1LR_vGwbuZZzNbeKY_3nl83T/s128/minus.png) 85% 55% no-repeat}
    .tolumns{clear:both;width:330px;line-height:22px;padding:0 0 20px}
    a:focus{outline:none}
    .dans img{border:1px solid #666;float:right;margin:3px 0px 6px 5px;padding:2px}
    .dans h3{border-bottom:1px solid #666;margin-bottom:5px;padding-bottom:3px;text-align:left;clear:both;color:#fff;font-size:13px;font-weight:700}
    .tolumns ul,.tolumns ul li{list-style-type:none;margin:0;padding:0}

    /* boys */
    .boys{position:fixed;bottom:10px;left:0;background:#000;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;border:1px solid #666;width:320px;height:auto;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;display:none;padding:10px 30px 30px 100px}
    .boys p{color:#fff;margin:0 0 15px;padding:0}
    .boys a,.boys a:visited{color:#9FC54E;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    .boys a:hover,.boys a:visited:hover{color:#fff;text-decoration:none;margin:0;padding:0}
    a.zigger{position:fixed;text-decoration:none;bottom:15px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 35px 10px 10px;filter:alpha(opacity=85);-moz-opacity:0.85;opacity:0.85;}
    a.zigger:hover{position:fixed;text-decoration:none;bottom:15px;left:0;font-size:16px;letter-spacing:-1px;font-family:verdana, helvetica, arial, sans-serif;color:#fff;font-weight:700;background:#000 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgys4XG2HheAG6tLHiN5mETkaO4zmsK3s5w9XPjQdpXNNdJtweFbEZRJrMrdZhDnnGZMsXvoiGu8hY_OHzCg2qaIvlX0YPjdgy43C26KBTePMknZul6kd7n6Xa6uQtlAXW3Fkkqy_rhkO65/s128/plus.png) 85% 55% no-repeat;border:1px solid #fff;-moz-border-radius-topright:10px;-webkit-border-top-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomright:10px;-webkit-border-bottom-right-radius:10px;-moz-border-radius-bottomleft:0;-webkit-border-bottom-left-radius:0;display:block;padding:10px 40px 10px 10px}
    a.active.zigger{background:#222 url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhy6YUdLN8j-sRZYkREWhlz3sBomcxE-kSYOiYEg3-JlWTqI_1XvJ6QHawQiVfQ4QfoA4io5_EgSk4-Zhqe_YRTv4h4K0f84uELQWgRpoxxQFkuONSfUHI_1LR_vGwbuZZzNbeKY_3nl83T/s128/minus.png) 85% 55% no-repeat}
    .rolumns{clear:both;width:330px;line-height:22px;padding:0 0 20px}
    a:focus{outline:none}
    .boys img{border:1px solid #666;float:right;margin:3px 0px 6px 5px;padding:2px}
    .boys h3{border-bottom:1px solid #666;margin-bottom:5px;padding-bottom:3px;text-align:left;clear:both;color:#fff;font-size:13px;font-weight:700}
    .rolumns ul,.rolumns ul li{list-style-type:none;margin:0;padding:0}

  • Selnjutnya Carilah Kode </head> Dan Taruh Semua Kode Berikut Tepat Diatasnya.

    <script src='http://filiex.googlecode.com/files/jquery-1.3.2.js' type='text/javascript'/>

    <script type='text/javascript'>
    $(document).ready(function(){
    $(&quot;.trigger&quot;).click(function(){
    $(&quot;.panel&quot;).toggle(&quot;fast&quot;);
    $(this).toggleClass(&quot;active&quot;);
    return false;
    });
    });
    </script>

    <script type='text/javascript'>
    $(document).ready(function(){
    $(&quot;.ligger&quot;).click(function(){
    $(&quot;.pans&quot;).toggle(&quot;fast&quot;);
    $(this).toggleClass(&quot;active&quot;);
    return false;
    });
    });
    </script>

    <script type='text/javascript'>
    $(document).ready(function(){
    $(&quot;.kigger&quot;).click(function(){
    $(&quot;.dans&quot;).toggle(&quot;fast&quot;);
    $(this).toggleClass(&quot;active&quot;);
    return false;
    });
    });
    </script>

    <script type='text/javascript'>
    $(document).ready(function(){
    $(&quot;.zigger&quot;).click(function(){
    $(&quot;.boys&quot;).toggle(&quot;fast&quot;);
    $(this).toggleClass(&quot;active&quot;);
    return false;
    });
    });
    </script>

  • Bila Semua Langkah Diatas Sudah Selesai, Sobat Bisa Save Atau Menyimpan Tempalte Sobat.
  • Selanjunya Silahkan Sobat Masuk Rancangan Dan Pilih Elemen Laman Dan Kemudian Silahkan Sobat Click Tambah Gatget Dan Pilih HTML/JavaScript Sebanyak 4 Gatget.


  • Silahkan Sobat Taruh Salah Satu Kode Dibawah ini Pada Satu Gatget.

    GATGET 1
    <div class='panel'>
    Letakkan Apa Saja Disini Sesuai Selera Sobat Seperti Text Info, Kotak Chat Dan Lain Lain.
    </div>
    <a class='trigger' href='#'>Panel 1</a>

    GATGET 2
    <div class='pans'>
    Letakkan Apa Saja Disini Sesuai Selera Sobat Seperti Text Info, Kotak Chat Dan Lain Lain.
    </div>
    <a class='ligger' href='#'>Panel 2</a>

    GATGET 3
    <div class='dans'>
    Letakkan Apa Saja Disini Sesuai Selera Sobat Seperti Text Info, Kotak Chat Dan Lain Lain.
    </div>
    <a class='kigger' href='#'>Panel 3</a>

    GATGET 4
    <div class='boys'>
    Letakkan Apa Saja Disini Sesuai Selera Sobat Seperti Text Info, Kotak Chat Dan Lain Lain.
    </div>
    <a class='zigger' href='#'>Panel 4</a>

  • Bila Langkah Diatas Sudah Selesai, Silahkan Sobat Save Atau Simpan Dan Lihat Hasilnya.
  • Selesai !!!

Selamat Mencoba! Semoga Berhasil Dan Cukup Sekian Disini Untuk Tutorial Kali ini Dan Semoga Bermanfaat Untuk Sobat Semua. Terima Kasih !!!
 

About me

Iblhiz Kedhipz Lapendoz
Pernahkah kamu merasa iri dengan kesuksesan, kehebatan, ketenaran, dan segudang kelebihan lain yang dimiliki orang-orang yang kamu ketahui? Dan tanpa sadar kamu begitu silau dengan kelebihannya, begitu senang mengetahui aktivitasnya yang penuh dengan inspirasi, dan kamu teramat ingin menjadi sepertinya. Kamu merasa bahwa dirimu sangat jauh dari sosoknya yang berkilau. Jika dirinya ibarat bintang yang bersinar terang, maka kamu ibarat awan hitam di langit pekat. Kamu hanya bisa mengintipnya, berharap suatu masa kan menjadi sepertinya.
Ya, mungkin banyak di antara kamu yang  pernah merasakan hal tersebut. Namun apakah yang dapat kamu lakukan? Hanya menjadi manusia yang iri dengan kelebihan-kelebihan orang lain, menjadi penonton segala kecemerlangan orang lain, atau kamu justru ingin menjadi pribadi yang juga bisa mengibarkan segala potensi positif kepada orang lain? Pilihan tersebut ada pada diri masing-masing dengan Allah sebagai penggenggamnya.
Sadarkah sahabat? Allah telah memberikanmu segudang potensi untuk dikembangkan, secerdas-cerdasnya akal untuk digunakan, seluas-luasnya ilmu untuk dipelajari, sejernih-jernihnya hati untuk diselami, sebaik-baik Agama (Islam) sebagai penuntun kehidupan. Maka tak adalagi alasan untukmu tak mau berupaya memperbaiki diri, menjemput kesuksesan dunia dan akhirat. Lihatlah ungkapan hati di bawah ini, sahabat..
“Aku adalah aku.
Aku bukan kamu, dia, atau mereka.
Aku adalah aku dengan segala kelemahan yang ada.
Aku dengan segala kelebihan yang Allah berikan.
Aku  yang berdiri tegak karena curahan cinta dan kasih sayang-Nya yang melimpah ruah.
Maka Aku, adalah aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.”
Mungkin kamu masih iri karena melihatnya di luar sana semakin berkilauan, sementara dirimu masih merangkak menuju langit cita dan cinta. Aku, kamu, dia, dan mereka sudah Allah berikan alur hidupnya masing-masing. Tak usah berkecil hati jika saat ini kamu belum sesukses, secemerlang, sebaik ia yang telah lebih dahulu menjemputnya. Tak salah jika kamu mengaguminya, tetapi jangan sampai membuatmu lupa diri. Justru yang harus kamu lakukan adalah banyaklah belajar darinya, ambilah energi positif darinya, dan terapkanlah energi itu dengan caramu sendiri.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisaa’ : 32)
Kembangkanlah potensi yang kamu miliki dari segi apapun, entah itu dari segi pendidikan, sosial, keagamaan, kesehatan, kesenian, olahraga sesuai kesanggupanmu. Berjuanglah sungguh-sungguh untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik di mata Allah. Tak usahlah risau jika tak ada manusia yang memujimu, mendukungmu, melihatmu. Karena yang kau butuhkan hanya penilaian di mata-Nya. Penilaian yang lebih hakiki sebagai penentuan berguna atau tidaknya sesuatu yang telah kau usahakan itu.
Yakinlah, dirimu akan selalu punya tempat di hati segenap manusia dengan sinarmu yang unik. Yakinlah bahwa dirimu akan mampu menjadi secemerlang dirinya ataupun bahkan lebih dari itu. Percayalah bahwa  
“Aku adalah Aku. Aku bukan kamu, dia, atau mereka. Aku adalah Aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.”

Just be your self, bersinarlah dengan caramu sendiri..

 

Daftar Isi